Showing posts with label Thriller. Show all posts
Showing posts with label Thriller. Show all posts

Tuesday, May 21, 2013

Se7en (1995)

Director: David Fincher
Writer: Andrew Kevin Walker
Cast: Brad Pitt, Morgan Freeman, Gwyneth Paltrow
Genre: Crime, Mystery, Thriller
Duration: 127 Minutes
Country: USA
Production Company: Cecchi Gori Pictures, New Line Cinema

If you enjoy psychological thriller that will mess with your mind and emotion, then you will definitely love Se7en. Why? Because it is one of the best crime movies ever!

Starring Morgan Freeman and Brad Pitt as two detectives whom assigned to solve a series of sick murders by a mysterious serial killer, Se7en start its story with a deep character conflict between a senior almost retire detective and his rookie partner in a dark creepy crime scene. Just in one scene, two incredible things are presented amazingly by Fincher.

A partnership in a movie more or less always use the same pattern, the same formula, placing two characters that have lots of differences in all aspects. It could be physical, race, age, intellectuality, personality, and many more. The more contrary the characters are, the more interesting the conflict will be. Using the same method, the partnership in Se7en feels more real and not enforced. A young detective that is new to the force with his unstable temper try to prove himself and a veteran detective that is working his last case before his retirement try to solve the case his way, using his calm, slow, and analytical method. This contradiction seems really natural and believable. They do not disagree because of some properties that is added by the movie maker, but because they are two human being from different era, that has different idealism, way of thinking, and all the essential things. We can see them as a human, not just some characters.

Now the case, it is lunatic, cuckoo, out of mind, crazy, mad, sick, you name it. The idea of killing people based on Seven Deadly Sins, the way the killer kills the victim, the condition of the victim when police finds them, they are all genius in a very sick way. Smart brainiac villain is way more scary than the strong and evil one. 

And the most incredible things of all is the ending. It is mindf*ck!! Pardon my language, but I think that is the closest word that can describe the ending. I think no normal human being can come with that kind of ending. Only the most genius and the sickest one can do. And I think it is a serious crime  if someone spoil the ending of Se7en to someone that haven't got the chance to watch it. Seriously, it will ruin the tense, the surprise, everything.

It is a must watch movie for everyone. Yes, everyone!

Rate: 9/10

Thursday, January 6, 2011

Black Swan (2010)

Sutradara : Darren Aronofsky
Penulis :
Mark Heyman, Andres Heinz, John J. McLaughlin
Pemain : Natalie Portman, Mila Kunis, Winona Ryder, Vincent Cassel

Genre : Drama, Thriller
Durasi : 108 Menit
Negara : USA
Production Company : Fox Searchlight Picture
Official Trailer : http://www.youtube.com/watch?v=5jaI1XOB-bs


Obsession, perfection, and transformation.

Tiga kata yang menurut saya paling merepresentasikan isi cerita film ini. Obsesi akan kesempurnaan yang memaksa seorang individu untuk berubah. Nina, seorang ballerina yang hidup di tengah tekanan yang berat baik dari studio ballet nya maupun dari ibunya. Nina yang berbakat namun introvert "tidak kuat" menanggung semua tekanan akibat kesempatan yang diperolehnya untuk menjadi tokoh utama dalam tarian Swan Lake. Obsesi untuk selalu menjadi yang terbaik, adiksi terhadap kesempurnaan, persaingan yang ketat dengan ballerina lain, perasaan bersalah karena telah menggusur posisi ballerina utama, dan perasaan takut tergusur oleh ballerina lainnya memaksa Nina menjadi seseorang yang bukan dirinya.

Black Swan merupaka thriller psikologis yang kelam. Hal ini diwakilkan dengan jelas oleh tiga warna utama yang ditonjolkan dalam tone color film ini. Hitam, putih, dan merah. Kepanikan, rasa takut, halusinasi, sangat tergambarkan dengan baik oleh film ini. Depresi dan rasa tertekan juga digambarkan dengan baik tanpa membuat orang berhanti menonton karena ikut depresi. Akting Natalie Portman di sini sangat believable. Sosok Nina yang manis dan perfeksionis sangat mirip dengan bayangan masyarakat tentang Natalie Portman. Menjadi Hollywood's sweetheart sekaligus alumni Harvard University? That's something.

Setelah menonton saya kemudian tahu bahwa film ini adalah karya Aronofsky. Karya lain Aronofsky yang pernah saya tonton adalah The Fountain. Dan menurut saya ada suatu kesamaan antara kedua karya Aronofsky ini. Alurnya sama-sama tidak linear dan sangat sedikit penjelasan yang diberikan. Penonton dianggap mengerti arah pemikiran si sutradara. Pemaknaan di Black Swan jauh lebih jelas dari pada The Fountain sih, tapi tetap saja banyak yang harus "dianggap paham" sendiri. Dan sebagai pembenci interpretasi, saya sedikit takut salah memaknainya.

Hal yang menarik di film ini adalah penggambaran kehidupan seks para ballerina. Ballerina yang selalu bekerja dengan pakaian ketat membentuk tubuh. Sexual harassment dari pria dan kecenderungan lesbianisme. Menurut saya kedua hal yang digambarkan di Black Swan tersebut sangat logis terjadi pada kehidupa ballerina di luar sana. Dan Aronofsky menyelipkannya dengan sangat pas di film ini.

Dua penampilan bertolak belakang ditunjukkan oleh dua aktris pendukung di film ini. Mila Kunis yang sangat berhasil mencuri perhatian penonton, dan Winona Ryder yang terlupakan. Karakter Kunis memang mendapat porsi yang lebih banyak. Tapi penampilannya di sini benar-benar meng-highlight namanya, Mila Kunis. Sementara Winona Ryder, jika saya tidak melakukan riset setelah menonton film ini, maka saya tidak akan sadar kalau mantan ballerina utama di film ini diperankan olehnya. Sangat tergantikan.

Secara keseluruhan penyampaian Black Swan cukup baik dan menarik, dengan penampilan luar biasa Natalie Portman yang harus dicetak dengan huruf tebal.

Rate : 8/10

Tuesday, October 5, 2010

Leverage (TV Series 2008 - Present)

Creators : Chris Downey, John Rogers
Negara : USA
Bahasa : Bahasa Inggris
Durasi per Episode : 42 Menit
Pemain : Timothy Hutton, Gina Bellman, Christian Kane, Beth Riesgraf, Aldis Hodge
Production Company : Electric Enterteinment
Stasiun TV : TNT
Official Trailer : http://www.youtube.com/watch?v=wnJRhnAFZDM



Crime, Drama, Mystery, Thriller
Pertama kali saya menonton Leverage, saya langsung teringat pada Ocean Eleven, Twelve, dan Thirteen, di mana sekelompok orang dengan skill-skill tertentu berkumpul untuk menjatuhkan 'orang jahat' dan membalaskan dendam orang-orang yang tertindas. Bedanya, geng bentukan Danny Ocean itu hanya membalaskan dendam dirinya dan orang-orang terdekatnya saja, sementara geng dalam serial Leverage ini bekerja menerima keluhan dan permintaan balas dendam dari orang-orang tertindas, setiap saat dan setiap waktu. Seperti perusahaan sosial penyedia jasa balas dendam yang dapat diakses setiap saat setiap waktu.

Tidak rombongan seperti geng Danny Ocean, Geng Leverage ini hanya terdiri dari lima orang yang sanhat ahli dalam bidangnya masing-masing. Nathan Ford si ketua geng merupakan mantan insurance agency investigator yang bertugas memburu penjahat-penjahat, terutama pencuri-pencuri. Dengan latar belakangnya ini, Nate yang biasanya menyusun strategi untuk menjebak dan menangkap pencuri, sekarang bekerja sebagai mastermind 'kejahatan' yang sulit ditebak dan ditangkap.

Anggota kedua adalah Sophie Devereaux, seorang aktris amatir dengan kemampuan akting begitu buruk di atas panggung, namun memiliki kemampuan akting luar biasa jika sedang beraksi dalam kejahatannya. Sophie merupakan penjahat buruan langganan Nate, oleh karena itu, keduanya memiliki hubungan yang complicated. Dalam geng Leverage ini, Sophie berperan sebagai grifter, orang yang harus mengelabuhi dan membuat target memakan umpan yang direncanakan oleh anggota geng.

Anggota ketiga dalam geng Leverage ini adalah Eliot Spencer, mantan tentara dengan tubuh kekar, ahli senjata, ahli beladiri tangan kosong, memiliki kekuatan yang luar biasa, namun memiliki tempramen yang terkadang meletup-letup, namun masih dalam batas wajar. Sebelum bergabung dengan geng Leverage ini, Eliot sering bekerja sendiri untuk melakukan kejahatan dengan mengandalkan kekuatannya. Dalam geng Leverage, Eliot bertugas sebagai hitter, yang bertanggung jawab melumpuhkan petugas keamanan dan body guard yang tidak dapat dikecoh oleh teman-temannya.

Di era teknologi dan informasi ini, jenis kejahatan dan tindak kriminal ikut berkembang. Di situlah lahir kesempatan untuk Hardison si hacker. Semua jenis kejahatan pencurian, pemalsuan, yang membutuhkan teknologi, Hardison lah ahlinya. Dengan berebekal gadget di tangan, hampir semua pintu bersecurity code, password, alarm, dan code-code lainnya dapat ditaklukkan oleh Hardison. Dalam geng Leverage, Hardison bertugas untuk mencari informasi sebanyak mungkin mengenai target, memalsukan ID, membobol security code, dan hal-hal yang berhubungan dengan kejahatan teknologi.

Anggota geng terakhir adalah Parker, si Pencuri. Manurut saya, karakter Parker adalah karakter yang paling menarik dari semua anggota geng di Leverage ini. Parker memiliki masa lalu yang suram dan tidak jelas. Parker sangat kaku, tidak berperasaan, dan sulit bersosialisasi. Namun Parker sangatlah ahli dalam urusan curi-mencuri. Dengan badannya yang langsing dan lentur, Parker dapat menari-nari melewati laser pengaman suatu barang. Parker juga dapat meliuk-liuk di saluran udara suatu gedung. Parker juga terampil bergerak di atas lift atau mobil yang sedang melaju kencang. Parker juga ahli dalam membuka brankas analog, membobol mobil, dan sebagainya. Dalam geng leverage, Parker bertugas sebagai Thief.

Dengan kemampuan individu yang luar biasa dari masing-masing anggota tim, geng Leverage menjadi sebuah geng yang sangat solid untuk melakukan kejahatan yang terstruktur. Dengan sulap hollywood untuk menyenangkan penonton, geng kriminal ini dibuat tobat dan memanfaatkan kemampuannya di jalan yang benar. Mereka menggunakan idealisme Robin Hood, mencuri dari CEO yang kejam, pejabat yang korup, atau penguasa jahat lainnya, untuk membalaskan dendam orang-orang tertindas yang menghubungi mereka.

Bagaimana orang-orang tertindas ini menghubungi mereka, bagaimana modal mereka dapat terkumpul dalam melakukan strategi balas dendam mereka, atau bagaimana dramatisasi konflik batin penjahat yang tobat, tidak pernah dijelaskan lebih lanjut dan tidak pernah diambil pusing oleh sutradara dan penonton. Sejauh atraksi kriminal demi orang tertindas ala Hollywood ini masih menarik dan mengundang decak kagum, orang-orang termasuk saya akan tetap menontonnya.

Summary
Bagaimana jika penjahat-penjahat dengan skill individu yang luar biasa bergabung dalam satu tim untuk membantu orang-orang tertindas dengan cara mencuri dari penguasa-penguasa kejam? Menarik, full action, namun sangat hollywood, sehingga sangat kurang dalam segi drama dan aspek manusiawinya.

Rate : 8/10

Tuesday, September 28, 2010

Resident Evil: Afterlife (2010)

Sutradara : Paul W.S. Anderson
Penulis :
Paul W.S. Anderson
Pemain : Milla Jovovich, Ali Larter, Wentworth Miller
Genre : Action, Horror, Sci-Fi, Thriller
Durasi : 97 Menit
Negara : United Kingdom, Germany, USA
Production Company : Constantin Film Production, Davis-Film, Impact Pictures
Official Trailer : http://www.imdb.com/video/imdb/vi3447719449/



Film Adaptasi

Resident Evil merupakan salah satu film adaptasi dari game yang paling berhasil. Hal ini terlihat dari kesuksesannya mencapai film yang keempat. Walaupun dapat dikatakan cukup berhasil jika dibandingkan dengan film adaptasi game lainnya, namun jika dibandingkan dengan film-film lain dalam satu genre yang tidak diadaptasi dari game, Resident Evil masih kalah bersaing secara kualitas, terutama pada sektor cerita. Cerita dan kelogisan merupakan salah satu bagian yang seringkali berlubang pada film adaptasi dari game. Alasan mendasar mengapa hal ini terjadi adalah karena cerita memang bukan hal yang ingin dikedepankan dalam game, namun dalam film, cerita merupakan elemen yang sangat penting. Sementara untuk media lainnya, seperti novel, cerita pendek, atau komik, cerita juga merupakan elemen yang penting, sehingga film adaptasi dari media tersebut lebih mudah diterima kelogisannya oleh penonton.

Action, Horror, Sci-Fi, Thriller
Resident Evil : Afterlife ini menceritakan tentang kelanjutan kisah Alice di dunia setelah manusia hampir punah akibat T-Virus yang diciptakan oleh Umbrella Co. Film ini menggunakan plot yang sedang populer di hollywood, yaitu Seru-Penjelasan-Naik-Klimaks-Penutupan. Bagian awal film dibuka dengan perseteruan Alice beserta saudara-saudara kloningannya melawan bos Umbrella Co. Ya, hasilnya sudah dapat kita tebak, Alice pasti selamat. Karena jika tidak, siapa yang akan diceritakan di film ini.

Hal-hal tidak logis khas film action Hollywood pun dimulai. Mulai dari Alice yang selamat tanpa luka seriusa setelah pesawatnya terbakar menabrak tebing, handycam Alice yang dapat terus menyala, padahal dunia sudah kiamat dan tidak ada listrik lagi, muka Alice yang senantiasa full make up, Claire yang tadinya kumal, dalam seketika langsung bersih, bermake up, dan berambut lurus tertata rapih, gerakan manusia-manusia yang tidak normal, dan banyak ketidak logisan lainnya. Namun mungkin ketidak logisan itulah yang ingin disaksikan penonton di film-film action.

Dari segi cerita, cukup logis sebenarnya. Para survivor berjuang untuk menemukan orang-orang yang selamat lainnya dan berharap dapat hidup lebih lama di dunia. Namun tidak ada yang spesial dari kisah penyelamatan diri tersebut. Tokoh-tokoh survivornya hanya diceritakan sambil lalu. Semuanya berpusat kepada Alice dan herannya semua orang bisa dengan mudah percaya dan menuruti Alice. Tidak ada konflik kemanusiaan yang terlalu berarti di dalam film. Pertempuran dengan undead nya sendiri juga berlangsung ala kadarnya. Mengagetkan, namun tidak "wah" dan tidak indah. Dramatisasi para survivor yang tidak selamat juga nihil. Saat ada satu orang yang tidak selamat, yang lain dapat move on dengan cepatnya, bahkan bisa tersenyum dengan cepatnya. Persis dengan dunia game. Gamer tidak peduli dengan konflik kemanusiaannya atau karakter dari tokohnya. Yang terpenting karakter yang mereka mainkan dapat selamat menghadapi rintangan dan sampai ke level selanjutnya. Tapi penonton film tentunya mengharapkan lebih dari itu.

Summary

Seperti film adaptasi game lainnya, jangan harapkan cerita, kelogisan, dan drama dalam film ini. Pusatkan perhatian pada karakter wanita perkasa yang berusaha menuju sebuah save point untuk dapat memasuki level selanjutnya. Dan karena ini film, maka tidak ada kata game over.

Rate :
6/10

Monday, September 13, 2010

Amores Perros (2000)

Sutradara : Alejandro Gonzalez Inarritu
Penulis : Guillermo Arriaga
Pemain : Emilio Echevarria, Gael Garcia Bernal, Goya Toledo
Genre : Drama, Thriller
Durasi : 154 Menit
Negara : Mexico
Production Company : Altavista Films, Zeta Film
Official Trailer : http://www.imdb.com/video/screenplay/vi2260074777/



Drama, Thriller
Octavio loves Susana, Daniel loves Valeria, El Chivu loves Maru, Love's a Bitch. Amores Perros atau Love's A Bitch merupakan sebuah film yang terdiri dari tiga buah bagian cerita yang dihubungkan oleh sebuah kecelakaan di sebuah kota di Mexico. Bagian cerita yang pertama berjudul "Octavio and Susana", menceritakan tentang seorang pemuda miskin yang mencintai kakak iparnya sendiri dan berusaha mengumpulkan uang dengan cara mengikuti "sabung anjing" untuk dapat hidup bersama dengan kakak iparnya tersebut. Bagian cerita yang kedua berjudul "Daniel and Valeria", mencertitakan tentang seorang pria yang meninggalkan keluarganya untuk dapat tinggal bersama dengan supermodel cantik di sebuah rumah impian. Bagian cerita yang terakhir berjudul "El Chivo and Maru", menceritakan tentang cinta yang tidak tersampaikan dari seorang gelandangan mantan narapidana politik yang bekerja sebagai pembunuh bayaran kepada seorang gadis muda.

Ketiga cerita cinta pada film ini merupakan kisah cinta yang rumit dan memiliki batasan-batasan yang harus dilanggar jika para karakter ingin mendapatkan cintanya. Kerumitan kisah cinta ini kemudian dibumbui dengan keras dan brutalnya kehidupan kelas rendah, kejam dan dinginnya kehidupan karir profesional, dan bobroknya sistem hukum dan politik. Semua unsur ini digabungkan menjadi satu dalam sebuah drama thriller yang jujur dan pahit dengan anjing sebagai ikon-nya.

Amores Perros merupakan film mengenai hubungan manusia. Entah itu hubungannya dengan anjing, kekasih, keluarga, atau kondisi ekonomi dan politik. Amores Perros merupakan film mengenai konsekuensi yang tidak terduga. Entah itu konsekuensi perbuatan baik atau konsekuensi perbuatan buruk. Amores Perros merupakan film mengenai konsekuensi yang tidak terduga dari hubungan manusia.

Alejandro Gonzalez Inarritu
Amores Perros merupakan film pertama dari salah satu sutradara favorit saya, Alejandro Gonzalez Inarritu. Gaya penceritaan yang digunakan Inarritu pada film ini ini juga digunakan Inarritu pada film-film selanjutnya, yaitu Babel dan 21 Grams. Secara subjektif, gaya penceritaan seperti ini merupakan salah satu gaya penceritaan favorit saya. Kenapa? Karena dengan gaya penceritaan seperti ini, banyak cerita yang bisa disampaikan, banyak karakter yang bisa dieksplor lebih lanjut, dan banyak pelajaran yang bisa diperoleh penonton hanya dengan menonton satu film saja.

Jika harus mengurutkan ketiga karya Inarritu yang telah saya tonton dari yang paling saya sukai hingga yang kurang saya sukai, saya akan menempatkan 21 Grams diurutan pertama, Amores Perros diurutan kedua, dan Babel diurutan terakhir. Bagi saya, 21 Grams unggul karena hubungan antara satu cerita dengan cerita yang lain begitu rapat, saling berhubungan, namun sulit ditelusuri hubungan antara yang satu dengan yang lain. Hubungan antar cerita pada Amores Perros telah jelas, cukup dekat, namun tidak serapat hubungan cerita pada 21 Grams. Sementara hubungan antar cerita pada Babel begitu renggang dan tipis, sehingga harus dikais-kais terlebih dahulu untuk dapat menemukan hubungan tersebut.

Tetapi tetap, apapun filmnya, sejauh ini saya masih menganggap Inarritu sebagai salah satu sutradara terbaik dalam film-film multi-cerita.

Summary
Sebuah drama thriller yang brutal dan pahit, dengan cerita yang rumit, tapi jujur dan sangat logis terjadi. Menyakitkan untuk dilihat tetapi memberi kita banyak hal setelah menontonnya.

Rate : 8.5/10

Sunday, September 12, 2010

Shutter Island (2010)

Sutradara : Martin Scorsese
Penulis : Laeta Kalogridis (Screenplay),
Dennis Lehane (Novel)
Pemain : Leonardo DiCaprio, Mark Rufallo, Ben Kingsley
Genre : Drama, Misteri, Thriller
Durasi : 138 Menit
Negara : USA
Production Company : Paramount Pictures
Official Trailer : http://www.imdb.com/video/imdb/vi4064281/


Film Adaptasi

Shutter Island merupakan film adaptasi dari novel best-seller karya Dennis Lehane dengan judul yang sama. Sejujurnya saya belum pernah membaca novel ini dan tidak tertarik untuk membacanya, setidaknya dalam waktu dekat ini. Karena belum pernah membaca sumber adaptasinya, saya tidak bisa membandingkan cerita yang ada di film ini dengan yang ada di novel. Namun secara umum, saya cukup senang dengan plot cerita yang disajikan di film ini, karena menggunakan plot klasik yang mendaki dari nol, bukannya menggunakan plot menggebrak di awal yang saat ini hampir selalu digunakan oleh film-film produksi hollywood.

Martin Scorsese
Secara kebetulan, sebelum menonton film ini, saya menonton dua karya besar Scorsese, yaitu Taxi Driver dan Goodfellas. Mau tidak mau saya harus membandingkan film ini dengan dua karya Scorsese yang sebelumnya saya tonton. Dari ketiga film tersebut, menurut saya, Shutter Island adalah film yang paling seru. Bukan yang paling bagus, tapi paling seru. Taxi Driver dan Goodfellas sangat mengedepankan narasi dan monolog dari tokoh utamanya, sementara Shutter Island lebih banyak menampilkan kondisi saat ini di sekitar tokoh utama dengan sesekali menampilkan flashback. Tensi ketegangan saat menonton Shutter Island juga stabil pada tingkat yang cukup tinggi. Di mana suasana menonton dibuat cukup menegangkan dari awal dan terus naik secara perlahan hingga klimaks film.

Drama, Misteri, Thriller
Jika cerita di film ini dibagi menjadi delapan bagian, saya akan membenci dua per delapan bagian awal cerita, karena terlalu tegang dengan alasan yang belum jelas; sangat menyukai dan bergeleng-geleng kagum pada lima per delapan bagian tengah film, karena menyajikan kejutan-kejutan yang menyentak dan beberapa adegan yang tidak bisa ditebak; namun ingin mengganti seperdelapan bagian akhir film karena merasa memiliki alternatif ending yang lebih baik. Cerita pada film ini memberi kita kesempatan sejenak untuk menebak dan memberi kita beberapa alternatif penyelesaian film. Tepat saat kita selesai berpikir, film ini akan memberi tahu jawaban yang sebenarnya. Terus begitu, hingga akhir. Dari awal hingga tujuh per delapan film, hampir semua alternatif yang dipilih oleh si tokoh utama bisa saya tebak dengan benar. Walaupun ada beberapa tebakan yang salah, namun film ini memilih alternatif yang jauh lebih baik, dan memberikan hasil yang lebih baik. Hanya saja, di seperdelapan bagian akhir film, saya merasa tidak puas dengan pilihan alternatif si tokoh utama.

Leonardo DiCaprio
Tidak jauh dari jadwal tayang Shutter Island, film Inception karya Christopher Nolan yang juga diperankan oleh DiCaprio meledak di pasar dunia. Bertahan cukup lama di tangga Box Office dengan popularitas di Twitter yang tinggi membuat Inception benar-benar menekuk Shutter Island. Lagi-lagi saya harus membandingkan film ini dengan film lain. Kali ini Inception. Dengan jajaran cast yang sedikit lebih "segar" dan dengan cerita yang sedikit lebih "ceria", di atas kertas Inception memang unggul. Dengan ide yang belum digunakan berulang-ulang di hollywood, cerita memasuki mimpi orang secara beramai-ramai dianggap masyarakat dunia lebih menarik daripada cerita suram pencarian penjahat sakit jiwa yang hilang dari fasilitas terisolasi di pulau terpencil. Belum lagi visualisasi dan efek yang lebih menjanjikan pada Inception. Pada awalnya saya pun berpikir demikian. Dengan menset ekspektasi yang lebih tinggi pada Inception dan ekspektasi yang lebih rendah pada Shutter Island, saya menonton kedua film ini dalam waktu yang cukup berdekatan. Hasilnya saya sedikit lebih kecewa pada Inception jika dibandingkan dengan Shutter Island ini. Kalau diibaratkan dengan tugas akhir, hasil akhir penelitian pada Shutter Island tidak sesuai dengan ekspektasi, tetapi tujuan penelitian jelas dan terpenuhi. Sementara Inception, hasil akhirnya gemilang, sesuai dengan tujuan, namun kemudian saya harus mempertanyakan kelogisan penyusunan tujuan penelitian. Karena banyak hal tidak logis di awal yang baru terasa ketidak logisannya saat film berakhir.

Summary
Sebuah film drama, misteri, thriller yang cukup menarik untuk ditonton. Menegangkan, membuat kita menebak, cast yang menjanjikan, cerita yang menarik, tapi sudah cukup banyak jenisnya, dengan penyelesaian pada cerita, bukan pada film, yang sedikit mengecewakan.

Rate : 7.8/10